Halaman Utama
Dari AcehPedia
Selamat Datang di AcehPediaAcehPedia merupakan proyek pembangunan sebuah database (basis data) yang komprehensif sebagai rujukan yang reliable and credible tentang Aceh dalam bentuk ensiklopedia online. Proyek ini dibangun dengan dukungan dana dan materiil lainnya dari lembaga Ford Foundation, SGP Indonesia, Pemprov. NAD, AITD dan Air Putih Palapa.
AcehPedia berisi koleksi arsip sejarah maupun kontemporer terlengkap baik berupa dokumen tekstual maupun foto yang dikemas dalam 5 (lima) kategori utama. AcehPedia diharapkan akan menjadi sarana yang efektif dalam upaya mempromosikan Aceh beserta kekayaan khazanah kebudayaannya ke seluruh dunia, dan membuka sekat-sekat informasi yang selama ini mengisolasi Aceh.
|
Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti "pelabuhan", dan nami berarti "gelombang", sehingga tsunami dapat diartikan sebagai "gelombang pelabuhan". Tsunami juga dapat diartikan secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, atau hantaman meteor di laut.
Istilah ini pertama kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena panjang gelombang tsunami sangat besar, pada saat berada di tengah laut, para nelayan tidak merasakan adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali ke pelabuhan, mereka mendapati wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah mereka menyimpulkan bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan tidak di tengah lautan yang dalam. Selengkapnya Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di Nusantara. Pada saat itu banyak pelajar dari Nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India, dan Parsi yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama. Selengkapnya |
Pocut Meurah Intan adalah puteri keturunan keluarga bangsawan dari kalangan Kesultanan Aceh. Ayahnya Keujruen Biheue. Pocut Meurah merupakan nama panggilan khusus bagi perempuan keturunan keluarga Sultan Aceh. Beliau juga biasa dipanggil dengan nama tempat kelahirannya. Biheue adalah sebuah kenegerian atau ke-uleebalangan yang pada masa jaya Kesultanan Aceh berada di bawah Wilayah Sagi XXXI Mukim, Aceh Besar. Setelah krisis politik pada akhir abad ke-19, kenegerian itu menjadi bagian wilayah XII mukim : Pidie, Batee, Padang Tiji, Kale dan Laweueng. Suami Pocut Meurah Intan bernama Tuanku Abdul Majid, Putera Tuanku Abbas bin Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah. Selengkapnya...
|
