Kisah “Puasa” Prestasi Tunggal Putri Indonesia Kian Panjang

Jakarta, IDN Times – Pemain-pemain tunggal putri pada cabang olahraga bulutangkis Indonesia gagal mendapat medali di ajang Asian Games 2018. Hal ini membuat “kisah puasa” prestasi tunggal putri Indonesia semakin panjang.

Mantan pebulutangkis tunggal Indonesia, Yuni Kartika menilai, ada beberapa hal yang mempengaruhi prestasi tunggal putri Indonesia. Setidaknya, kata dia, ada tiga hal.

1. Sistem permainan yang berbeda
Kisah Puasa Prestasi Tunggal Putri Indonesia Kian PanjangANTARA FOTO/INASGOC/Puspa Perwitasari/18
Yuni menilai perbedaan sistem permainan bulutangkis yang diterapkan di Asian Games 2018 menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi tunggal putri Indonesia. Jika pada era 1990-an–saat Yuni menjadi atlet–sistem permainan yang diterapkan adalah sistem pindah bola. Sementara saat ini, sistem yang dipakai reli poin.

Dengan sistem pertandingan reli poin, para atlet dituntut untuk bekerja lebih keras. “Kerja keras dan persiapan modal utama. Kalau dilihat pertandingan itu hasil dari persiapan,” kata Yuni kepada IDN Times, Senin (3/9).

2. Kuantitas dan kualitas tidak sebesar putra
Kisah Puasa Prestasi Tunggal Putri Indonesia Kian PanjangInstagram.com/Jonachivers
Secara kuantitas, jumlah peminat untuk menjadi atlet bulutangkis putri selalu lebih sedikit dibandingkan putra. “Selalu putri hanya sepertiga (dari putra), (yang) minatnya,” kata Yuni. Hal ini membuat tidak banyak sosok-sosok berbakat yang bisa diasah.

LANJUTKAN MEMBACA ARTIKEL DI BAWAH
Editors’ Picks
Muhammad Zohri Melesat Ke Semifinal Asian Games 2018
Asian Games 2018: Ini Daftar Atlet Penyumbang Medali!
Ginting Lolos Ke Perempat Final, Ibunda Malah Kehabisan Tiket
Permasalahan lain yang juga muncul dan mempengaruhi adalah dari segi kualitas. “Kualitas dasar masih kurang oke. Bukan jelek loh ya,” kata Yuni. “Putri juga masalah nonteknis-nya banyak. Lebih baperan. Sensitif,” tambah.

Baca Juga: Tampil di Superliga Junior 2017, Ini Harapan Gregoria Mariska Tunjung

3. Regenerasi yang terputus
Kisah Puasa Prestasi Tunggal Putri Indonesia Kian PanjangInstagram/yuni.kartika73
Kehadiran sosok mentor ternyata juga mempengaruhi peningkatan prestasi para atlet. Hal tersebut yang dirasa Yuni kurang berjalan dengan baik pada tunggal putri.

Pasalnya, regenerasi di tunggal putri sempat terhenti. Hal ini membuat atlet tunggal putri tak sempat memiliki sosok mentor yang dapat dikejar prestasinya dan dapat mengajari para atlet.

“Dari dulu zaman Verawaty Fajrin, lalu dilanjutkan oleh Ivana Lie. Setelah itu ada Susi Susanti, lalu ke saya,” kata Yuni. “Setelah saya ke Mia Audina. Habis Mia putus,” kata Yuni.

Hal ini yang disesalkan Yuni sehingga jarak mentor ke para atlet seperti Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani lama kosong.

Wanita kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 16 Juni 1973 itu merupakan atlet bulutangkis Indonesia hasil binaan PB Djarum era 1990-an. Dalam kariernya, ia bersama anggota tim menjuarai Piala Uber 1994.

Topic:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Just For You